5 Alasan Kenapa Orang Berbohong

 

Bohong merupakan perbuatan yang tidak baik untuk dilakukan sebab apaun itu sebaiknya dikatakan dengan jujur dan tapa ada hal yang harus disembunyi sebunyikan, namun ada beberapa kasus tertentu yang harus membuat kita berkata bohong.

Nah berikut ini ada beberapa penyebab kenapa kita berkata bohong, kamu mau tahu apa saja itu simak ulasanya berikut ini dikutip dari palingseru.com

1. Kebiasaan
Berbohong ternyata bisa disebabkan karena kebiasaan, karena sudah terbiasa makan kita akan selalu berkata bohong kapan pun dan dimanapun.

2. Malu
Berbohong juga bisa disebabkan karena rasa malu, karena takut keburukan terbongkar otomatis kita akan menyembunyikanya dan terpaksa berbohong.

3. Tidak ingin menyakiti orang lain
Karena kenyataan sangat pahit biasanya kita akan berbohong demi menjaga perasaan orang lain jika mengetahui hal yang sebenarnya.

4. Cara paling mudah
Berbohong juga bisa disebabkan karena ini merupakan cara paling mudah untuk menghindari sebuah masalah.

5. Tidak ingin dihakimi
Beberapa orang tidak ingin membiarkan orang lain tahu rahasia terdalam mereka, yang dapat membuat orang lain menghakimi mereka. Sikap ini kemudian memunculkan keinginan untuk berbohong agar dapat menutupi kekurangan atau rahasia yang disembunyikan

Nah itulah beberapa penyebab orang berbohong, apa kamu salah satu orang yang suka bohong?

source

Satu satunya orang yang mengabadikan foto proklamasi kemerdekaan RI


Frans Soemarto Mendoer


Fotografi memang bukan hanya menjadi saksi sejarah, tapi juga menjadi bukti sejarah hidup manusia dan peristiwa-peristiwa yang melingkupinya. Dengan keberadaan foto, banyak orang bisa diingatkan dan disadarkan tentang suatu hal. Frans Soemarto Mendoer sangat memahami hal tersebut. Karena itulah, setelah mendapat kabar dari seorang sumber di harian Jepang Asia Raya bahwa akan ada kejadian penting di rumah kediaman Soekarno, Frans langsung bergerak menuju rumah bernomor 56 di Jalan Pegangsaan Timur itu sambil membawa kamera Leica-nya. Dan benar, pagi itu, Jumat, 17 Agustus 1945, sebuah peristiwa penting berlangsung di sana: pembacaan teks proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia oleh Soekarno.



Saat itu Frans hanya memiliki sisa tiga lembar plat film. Jadi dari peristiwa bersejarah itu, ia hanya bisa mengabadikan tiga adegan. Yang pertama, adegan Soekarno membacakan teks proklamasi. Yang kedua, adegan pengibaran bendera Merah Putih yang dilakukan oleh Latief Hendraningrat, salah seorang anggota PETA. Dan yang ketiga, suasana ramainya para pemuda yang turut menyaksikan pengibaran bendera. Setelah menyelesaikan tugas jurnalisnya itu, Frans langsung bergegas meninggalkan rumah kediaman Soekarno karena menyadari bahwa tentara Jepang tengah memburunya.

Frans menjadi satu-satunya orang yang mengabadikan momen sakral itu karena Alex Alexius Impurung Mendoer, kakak kandungnya yang juga sempat memotret prosesi bersejarah tersebut, harus merelakan kameranya dirampas oleh tentara Jepang.

Dan sewaktu tentara Jepang menemui Frans untuk meminta negatif foto Soekarno yang sedang membacakan teks proklamasi, Frans mengaku film negatif itu sudah diambil oleh Barisan Pelopor. Padahal negatif foto peristiwa yang sangat penting itu ia sembunyikan dengan cara menguburnya di tanah, dekat sebuah pohon di halaman belakang kantor harian Asia Raya. Kalau saja saat itu negatif film tersebut dirampas tentara Jepang, maka mungkin generasi sekarang dan generasi yang akan datang tidak akan tahu seperti apa peristiwa sakral tersebut.

Bahkan, mengenai kehadiran Frans di rumah Soekarno pada waktu itu, wartawan senior Alwi Shahab menulis “Andaikata tidak ada Frans Mendoer, maka kita tidak akan punya satu foto dokumentasi pun dari peristiwa proklamasi kemerdekaan…” Tulisan itu dimuat di harian Republika edisi Minggu, 14 Agustus 2005, tiga hari menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-60.

Pencucian tiga buah foto bersejarah itu juga tidaklah mudah karena dihalang-halangi pihak Jepang. Frans bersama Alex terpaksa secara diam-diam harus mengendap, memanjat pohon pada malam hari, dan melompati pagar di samping kantor Domei (sekarang kantor berita ANTARA) untuk bisa sampai ke sebuah lab foto guna mencetak foto-foto tersebut. Padahal, bila dua bersaudara itu tertangkap oleh tentara Jepang, mereka akan dipenjara, bahkan dihukum mati.

Foto pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia itu pertama kali dimuat di harian Merdeka pada tanggal 20 Februari 1946, lebih dari setengah tahun setelah pembuatannya. Film negatif catatan visual itu sekarang sudah tak dapat ditemukan lagi. Ada dugaan bahwa negatif film itu ikut hancur bersama semua dokumentasi milik kantor berita Antara yang dibakar pada peristiwa di tahun 1965. Waktu itu, sepasukan tentara mengambil seluruh koleksi negatif film dan hasil cetak foto yang dimiliki Antara lalu membakarnya.






sumber

Ternyata Masih Ada Orang Baik di Jakarta




Orang bilang, ibu kota lebih kejam dari ibu tiri. Klise, tapi benar. Setiap hari Jakarta jadi tempat pergulatan ribuan orang yang berjuang mencari nafkah. 

Tapi pengalaman saya membuktikan, masih ada orang baik di Jakarta.

Cerita ini terjadi beberapa minggu silam. Saya melangkah turun keluar taksi yang mengantarkan saya ke sebuah pameran komputer. Selang beberapa menit kemudian, saya baru tersadar kamera dan peralatan liputan senilai puluhan juta rupiah tertinggal dalam taksi putih itu.

Karena saya bukan orang yang mudah panik bila kehilangan barang (ini bukan kejadian pertama kali) saya pun segera memeriksa struk pembayaran taksi untuk mencari tahu nomor pintu taksi dan nomor telepon perusahaan. Setelah menelepon mereka, sesaat saya agak tenang. 

Tapi hingga 1,5 jam kemudian, tidak kunjung ada informasi apa pun. Saya mulai gusar. Saya kembali menelepon perusahaan taksi itu. Mereka mengatakan, mereka tidak punya nomor telepon pengemudi, dan karenanya hanya bisa mengabarkan via radio. Tapi sopir tidak menjawab. 

Skenario terburuk pun terbayang. Saya kehilangan kamera kantor, yang harganya tidak murah itu. Ingatan buruk ketika saya kehilangan telepon seluler (di taksi dari perusahaan yang sama) kembali timbul. Nada suara saya mulai meninggi.

Bagaimana mungkin sebuah perusahaan taksi dengan reputasi baik tidak punya nomor telepon tiap pengemudi, serta hanya mengandalkan komunikasi radio? 

Kepada saya, sang operator (dan manajernya) menjanjikan kepastian nasib kamera pada malam hari, ketika semua sopir kembali ke pangkalan. Di titik ini, ketidakpuasan saya sebenarnya memuncak. Tapi tidak ada yang bisa saya lakukan kecuali menunggu.

Ternyata saya tidak perlu menunggu hingga malam. Beberapa jam kemudian, saya ditelepon perusahaan taksi dan isinya kabar baik. Kamera liputan ada di petugas keamanan gedung pameran!

Rasanya seperti menemukan oase di tengah gurun pasir.

Sopir taksi (yang belakangan saya tahu bernama Zul) sebenarnya sempat menunggu saya kembali mengambil kamera yang tertinggal. Tapi karena saya sudah berjalan terlalu jauh (dan belum sadar ada yang tertinggal) dia pun menitipkan kamera itu pada petugas keamanan.

Di hiruk-pikuk kehidupan kota besar, individualisme adalah sebuah keniscayaan. Konsep paguyuban (gemeinschaft) yang selama ini dianggap mengalir di darah orang Indonesia sudah menguap nyaris tak berbekas. Yang ada adalah patembayan (gesellschaft), dan relasi manusia berlandaskan pada hitung-hitungan manfaat apa yang bisa didapat.

Begitupun, harapan selalu tetap ada. Bahkan di Jakarta, yang lebih kejam dari ibu tiri ini, orang baik masih ada walau mungkin sedikit.

Terima kasih Pak Zul, untuk menyadarkan saya bahwa masih ada orang yang memelihara kejujuran sebagai etos dasar. Orang yang mau membantu orang lain tanpa menghitung manfaat.  

Di tengah deru zaman yang mengagungkan materi dan menepikan moralitas, sosok seperti Pak Zul jelas melegakan.

Anda punya pengalaman serupa? Atau Anda pernah mendapatkan pertolongan yang tak disangka-sangka? Bagikan dengan kami melalui kolom komentar di bawah ini.

(sumber : http://id.berita.yahoo.com/blogs/newsroom-blog/masih-ada-orang-baik-di-jakarta.html)


Tag : Ternyata Masih Ada Orang Baik di Jakarta